Monday, March 28, 2011

Sunday, March 27, 2011

DIAM!!!

Anda...
Lebih baik...
Duduk dan...
DIAAAAAMMMMM!!!

Bila setiap hari hanya
- Mencela pengamen yg bersuara parau
- Menutup hidung melewati pengemis di jalan
Atau,
- Menggeleng2kan kepala ketika melihat anak punk jalanan yg sedang tertawa riang, yang BAHKAN tidak meminta apapun dari dirimu!

Sekarang,
Duduk dan diam... SAJA!
Bila Anda tidak ingin membantu,
Dan,
Bila Anda tidak peduli dengannya!

Reaksi mu bagai sampah yg tidak layak diangkut tukang sampah
Gaya mu selangit, tapi bukan langit aku dan dia, melainkan langit fana
Otakmu kerdil yg sangat mudah tertukar dgn sebutir pasir
Dan meskipun aku suruh kau diam,
dan mulutmu membisu tak berkata, tapi hatimu busuk membasi dan berbau!

Karang Sawarna



Tak dapat ku lukiskan perasaan cinta sang Karang kepada ombak..
Yang terus menghantam dengan hempasan ombak,
menghibur penonton berbibir merah yg tersenyum simpul..

Tak dapat ku bayangkan rasa sakit yg dialami Karang,
Ketika ia membiarkan diri terkikis ombak besar yang menghabiskannya perlahan..

Tanpa ada yg tahu,
Kepedihan yg harus ia rasakan kala ombak bermain dengan keriaan gulungannya,
Tanpa ada yg tahu,
Betapa sakitnya tamparan ombak yang pecah ketika berbenturan dengannya,

Tanpa ada yg paham...
Rasa cintanya yg tak pernah padam..

Karang yang selalu berdiam selama ratusan tahun sejarah,
Karang yang setia menanti tiap hantaman dan tamparan,

Merelakan hati yang tercabik dalam deburan air mata
Mengorbankan diri yang terkikis dalam tangisan sepi
Sampai waktu menghabiskannya hingga tak bersisa

Thursday, December 23, 2010

Thursday, August 5, 2010

KORUPSI

Aku teriakan kata KORUPSI

Memaki dan mencaci

Budaya yang menjalar sampai urat nadi

yang diresapi saat tak sadarkan diri

Bagai jantung berdetak tak henti

bagai waktu berjalan setiap detik

Semua mencaci, semua memaki

semua menghakimi..

di depan cermin..

Original post was May 2nd, 2007 on http://dhede-7.blog.friendster.com/

Wednesday, June 16, 2010

Setengah-setengah dan bukan satu-satu

Saat itu mataku terbuka,
Aku lihat itu...
Aku lihat semua yang kau perbuat,
dan kau jadikan aku rabun...

Kau lupa, telingaku masih dapat mendengar,
Jernih dan jelas seperti mata air...
Aku dengar semua yang kau katakan,
dan kau jadikan aku setengah tuli...

Dan ketika tangan ini terus membantu,
Cekatan tak kenal lelah...
Aku lakukan semua untuk mu,
dan akupun, kau ciderai satu lengan...

Tertinggal kedua kaki menapak tegap,
yang tetap bergerak dengan kepala tengadah...
Memastikan kujalani semua tepaan hidup,
Meski kau ambil setengah-setengah dan bukan satu-satu dari badanku...

Wednesday, February 3, 2010

Kata-katamu

Katamu...
hapus kabut gorong-gorong
tempat kami bersemayam bersama bau

Katamu...
tegakkan kepala untuk bergerak
teriak kebebasan hingga berdahak

Tapi kata-katamu itu...
bagai pecun mulut bergincu
merona warna berbentuk palsu

tak beda dengan semir sepatu
hanya mengkilat
untuk sesaat!