Sunday, August 16, 2009

Indonesia: aku dan kamu

Kau bilang Indonesia berragam budaya,

Tapi kau biarkan karya negeri diambil...

Kekayaan alam membuatmu bangga

Kemudian kau permalukan dengan membiarkannya rusak...

Cerita sejarah terlalu manis untuk kau dibingkai

Namun kau acuh dengan peninggalan berbentuk batu..


Untuk apa berkata bila hanya postcard yang pernah kau lihat

Atau berbangga ketika kasus pencurian budaya diangkat dalam berita dunia

Untuk apa bercerita tentang Holland yang maju karena penjajahan di negeri

Atau bersikap nasionalis hanya dan bila berada diantara para western

 

Pertanyaan tokoh sejarah hanya dapat dijawab lewat googling

Kekayaan alam hanya dapat dikaitkan dengan bisnis

Karena pikirmu Indonesia hanya di kota metropolitan

Jelas…

Indonesia bukan sahabat karibmu..

Semuanya dengan tanya

Semuanya sudah dipersiapkan..

Dan semua persiapan telah digagalkan oleh kata tertunda..

Rasionalisasi kah? Atau fakta bicara atas nama realitas?


Semuanya harus disusun lagi..

Dan semua diawali dengan angka 0 untuk memulai

Keinginan kah? Atau kewajiban hidup yang harus dijalani?

 

Semuanya perlu mencari fondasi..

Dan semua membutuhkan waktu tuk jalani lagi

Kesia-siaan kah? Atau menambah kekayaan makna diri?

Thursday, June 4, 2009

ijazah

Jangan kau sentuh Ijazah itu, Ayah..

Capnya yang telah memudar

Rapuh oleh waktu…

Lumpuh oleh dunia..

 

Tak perlu kau bingkai, Papa..

Tak ada yg dibutuhkan disitu

Tinggal tinta angka yang mulai hilang

Terlalu akrab dengan debu

 

Konon ijazah artinya ’smart’, Ayah

Meski ’smart’ tak ku mengerti artinya

Ada yang bilang untuk gengsi..

Ah, lagi lagi tak kumengerti…

 

Kemarin ku lihat ijazah itu dengan toga

Pemandangan senyuman berlimpah ruah

Tapi itu kemarin, Papa..

Hari ini tak tahu jadi apa..

 

Bagaimana bila ku biarkan terjatuh

Tertanam di bumi dan lapisan tanah

Biar melebur menjadi pupuk..

Daripada ’smart’ hanya menjadi frasa

Dan gengsi oleh budak dunia..

Mungkin di tanah akan lebih berguna…

Saturday, May 30, 2009

Tentang Perahu itu...

Aku akan hadir…

Tapi tidak hari ini..

Perahu itu rusak tak mampu layar,

Butuh detik-detik tambahan utk perbaikan..

 

Kayunya lapuk, sekrupnya banyak jatuh..

Sisa-sisa debu bertaburan, tak pernah disapu..

 

Tapi Ini bukan perahu tua yg termakan usia

Bahkan legenda terpatri pada masanya..

 

Hanya saja..

 

Ia tak berkutik saat kau menunda menepi

Berpasrah pada nahkoda yang pegang kendali

Dan terpaksa mengikuti petualangan lautan Atlantik

Yang kini tinggalkan kisah tentang ’Pelayaran Perdana-Detik Terakhir’

Friday, May 29, 2009

Kopi Pa'it

Cukup sajikan kopi Pa'it saja untukku..

Biar lebih terasa manisnya hidup…


Cukup dengan kopi hitam pekat..

Biar dapat sadari limpahan berkat.. 


Cukup cangkir tanpa piring kecil..

Biar kecukupan menjadi bagian terpenting..


Cukup satu saja yang di meja…

Satu aromanya sudah cukup melegakan..

Sunday, May 24, 2009

Secarik tentang Hari


Kau tak sadar bahwa alam memang bicara setiap hari…

 

Ketika matahari datang, seperti bunda yang membangunkan ku dari mimpi panjang karena cahayanya menghantarkanku pada realitas dunia… dan bila ku melupakan bunda, ia akan menjadi galak dan memberikan serangan cahaya terik supaya kita dapat lihat lagi padanya dan berkata, ”bunda, mengapa kau berikan panas, apa karena aku lupa waktu?”.. dan ia pun mendatangkan senja karena dilihatnya kita sudah berkelakuan baik hari itu… yah, bisa saja badai yg menghampiri entah kapanpun, tapi pasti karena kita nakal...

 

Saat senja, bunda mentari pun sedih karena harus meninggalkan kita… disinilah saat kita diajarkan tentang pilihan, berada keluar dari kenyamanan sekarang atau bergerak merasakan hal yang baru.

Adalah baik bila kita bergerak pada hal yang baru dalam hari (dalam hal ini hari dapat diterjemahkan sebagai kehidupan kita-red), yang digambarkan oleh mendatangkan malam…

 

Dalam kata malam, atau konotasi negatif yang terpancar… berdekatan dengan kata kelam.. tapi itu bila kita tak mengenal malam… kelam memang datang saat malam, tapi bulan menjadikan kita lebih mengenal alam… di dalam kegelapan banyak sekali pilihan yang menjadikan kehidupanmu sekarang ini..  Seakan-akan malam memang dihadirkan untuk mengisi perjalanan hidup agar penuh dinamika dan gejolak.. Kegelapan yang dihadirkan malam seakan mengijinkan kita berbuat apapun, bahkan hingga tindakan maksiat maupun kriminal sekalipun, karena kegelapan menyembunyikan kita sementara waktu - hingga bunda mentari datang menjemput.

Tapi dapat juga kita gunakan kekelamannya untuk menggali diri tentang keseharian bersama bunda mentari yang menemani, karena kekelaman menghantarkan kita ke lubuk hati paling dalam, seperti menimba air dalam sumur tak berujung, dan akan terangkat ketika –ternyata- kita  b.e.l.u.m  sanggup kita relungi kedalaman sumur diri… yah, mungkin karena terlalu kelam…

Atau….. cukup dengan lewati malam dengan memejamkan mata, semoga keindahan keseharian bersama bunda mentari terulang kembali dan berharap pengalaman kurang menyenangkan hilang bersama kelam malam…

 

Namun di malam inilah pilihan ditetapkan, yang menghantarkan pada bunda mentari saat fajar menyingsing, yang menentukan apa yang kau lakukan saat bunda mentari bersinar…

 

Selamat menikmati hari (baca: hidup), jangan lupa dengarkan alam ketika sedang bicara..

Friday, May 15, 2009

Tak Tahu

Telah tertanam segala bunga yang ada 
agar kebunmu tak lagi sepi 
Namun tak ku kira kembang rafflesia hadir disana 
berikan aroma yang tak kunanti..

Dan kutebas semua tanaman liar
agar tak ganggu kau dalam indahnya mimpi
Tapi tak ku sangka keanggunan mawar merah mewarna 
hadirkan kecantikan yang berduri...

Maaf, 
aku..
memang bukan
tukang kebun...